[BOOK] Finally Mr. Right – Review

Judul: Finally Mr. Right

Penulis: Shita Hapsari

Penerbit: Bentang Pustaka, Yogyakarta

Tahun: Februari, 2016

Halaman: 319

Ava memiliki sejumlah impian tentang pernikahan idealnya. Salah satunya melangsungkan acara sakral itu secara tematik bersama Cindy dan Disti. Masalahnya hari pernikahan kedua sahabatnya sudah ditentukan tahun depan, sementara Ava sendiri masih jomblo.

Menurut Cindy dan Disti, jodoh yang diharapkan Ava terlalu konyol dan tidak realistis. Ava menyusun kriteria calon pendamping hidup berdasarkan karakter dan adegan dalam film-film favoritnya. Bahkan, ia merancang beberapa skenario untuk mengetes mereka.

Hans dengan sosok rockstar-nya, selesai. Didit dengan karakter bagai bintang Hollywood favorit Ava, kandas. Roki yang diakui Ava sebagai cowok ganteng dan rapi, gagal di kencan pertama. Lalu, ada Kenzo, seorang laki-laki yang cukup mendekati kriteria. Namun, setelah melalui tes rancangan Ava, masih ada saja yang membuatnya ragu.

Harapan Ava menipis. Bahkan, Kieran, partner bisnisnya yang masih lajang pun kini telah menemukan cewek incaran. Jadi, siapa yang akan menjadi lelaki yang tepat untuk Ava? Tidak hanya Ava yang bimbang, tapi Cindy dan Disti yang ikut gemas. Rencana pernikahan tematik ini terancam batal!

 

 

Awalnya aku beli novel ini karena weddinglit. Belakangan aku memang suka baca jenis yang seperti itu, nggak tahu kenapa. Awalnya juga, aku baca ini santai-santai aja, nggak yang niat banget sampai nyureng-nyureng gitu. Apalagi bab awal memang adegannya kencan buta Ava sama Roki. Tapi, dari percakapan Ava sama Roki, aku jadi suka banget sama karakter Ava. Perempuan yang punya passion menggebu-gebu. Setelah itu di bab selanjutnya, di jelaskan soal mantan-mantan Ava dan kenapa mereka bisa putus. Menurutku, kriteria Ava untuk calon pasangannya bukan sesuatu yang konyol. Ya, nggak sekonyol seperti kata Cindy sama Disti.

Lalu Kenzo muncul seperti hadiah tidak terduga di bungkus ciki! Ehehe, nggak ding. Kenzo bukan seratus persen orang baru di kehidupan Ava. Dari pertemuan mereka tersebut, barulah Ava tahu kalau Kenzo dulu pernah naksir Ava saat jaman sekolah. Cie, ceritanya cinta lama bersemi kembali gitu. Kisah romansa Ava dan Kenzo kemudian dipaparkan dengan tenang dan tidak terburu-buru, pun tidak ada kesan terlalu menggebu-gebu. Namanya juga sudah bukan anak sekolah ya, jadi lebih dewasa. Tapi, sayangnya Kenzo terlampau santai. Melihat karir Ava, dia bukan tipe perempuan jaman sekarang yang disenggol soal nikah dikit langsung bawa perasaan, bukan juga cewek-cewek yang suka unggah foto kutipan di instagram penuh kode minta dihalalin pasangannya. Menurutku, Ava terburu-buru menikah karena dia sudah janji dengan Cindy dan Disti. Janji tentu harus ditepati, kan?

Karakter Kieran, partner bisnis Ava di sini sangat imut. Kenapa? Karena dia mengingatkanku pada seseorang yang sebelas dua belas sepertinya. Serius, tapi asyik diajak ngobrol. Pendengar yang baik, tapi bukan laki-laki yang suka komentar nggak penting—yang bukan porsinya. Kieran juga cerdas, cekatan, untuk dijadikan sahabat dekat laki-laki, sepertinya aku mau juga satu orang kayak Kieran. Kenapa jadi curhat, atulah.

Ini beberapa kalimat favoritku sepanjang novel;

“Kalau kamu ingin sukses, kamu harus fokus. Dan untuk itu, kadang-kadang kamu harus menginvestasikan seluruh waktumu. Berkorban? Tentu saja, pengorbanan selalu ada.” (hlm. 44)

“Biar kamu selalu bersemangat untuk berkarya dan nggak melupakan impianmu.” (hlm. 197)

“Nanti saya yang bantuin Ava berdiri kalau ada apa-apa.” (hlm. 246)

“Ava tahu kok, apa yang dia mau dan apa yang harus dia lakukan. Saya yakin dia pasti sukses.” (hlm. 247)

“Seumur hidup itu lama sekali, lho.” (hlm. 292)

You know what? Penikmat fantasi memang terbatas, kok. Hanya untuk orang-orang yang kreatif, berhati peka, dan berempati tinggi.” (hlm. 298)

Dengan adanya bumbu tambahan yang menguatkan karakter Ava, seperti konflik keluarga dan permasalahan bisnis, ceritanya semakin seru dan terasa nyata tanpa ada sisi yang terasa dipaksakan. Aku suka banget ending-nya tereksekusi dengan manis, tapi nggak terlalu manis, dan renyah!

Hal yang aku suka di sini adalah, adanya penekanan bahwa perempuan berhak berkembang dan mengepakkan sayapnya ke segala arah, bahwa perempuan tidak perlu approval dari laki-laki untuk mencapai impiannya. Bahkan, seharusnya, pasangan yang ideal—bagiku, tentu saja, adalah pasangan yang bersedia menjadi pendukung nomor satu. Your spouse should be your biggest fan. Jadi, kuanjurkan bacaan ini untuk semua perempuan di luar sana yang masih suka bimbang tentang mimpi dan perasaan kalian!

Ciao,


 

Advertisements

feedbacks are loved!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s